HeadlineInfo Papua

Heboh, Acara Barapen Warga Masyarakat Kirihi Korbankan 23 Ekor Babi

WAROPEN-Masyarakat asli Distrik Kirihi wilayah Pegunungan di Kabupaten Waropen yang tinggal di pesisir pantai, menggalang acara syukur Barapen atau Bakar Batu, dengan mengorbankan 23 ekor babi.

Acara syukur ini digelar karena masyarakat bersuka cita atas diresmikan dan ditahbiskannya Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) Jemaat Sola Gracia, Sabtu (25/5/2021), Kampung Sawara Jaya Distrik Warba, dimana juga merupakan tempat peribatan mereka.

Galeri-Barapen-01--PG

Mula-mula babi dikumpulkan di suatu tempat. Masyarakat sudah bersiap dengan alat panah dan busur tradisional. Tokoh Masyarakat yang juga mantan ketua DPRD Waropen periode sebelumnya Apinus Wonda membuka kegiatan bakar batu ini, dengan memanah dari jarak dekat seekor babi paling besar, dan tidak lama babi itu tersungkur dan mati.

Warga masyarakat Kirihi kemudian bersuka cita, mereka sebelumnya sudah mempersiapkan seluruh kebutuhan untuk acara syukuran bakar batu ini. Dengan menyiapkan batu-batu kali yang akan dibakar, juga dedaunan, hasil bumi lainnya seperti sayur mayur, keladi, singkong, dan alat perlengkapan tradisional lainnya.

Dengan tumbangnya satu ekor babi yang dipanah langsung oleh Apinus Wonda ini, kemudian masyarakat pun ikut memanah babi yang lain. Acara ini berlangsung sangat meriah dan penuh suka cita kegembiraan. Seluruh masyarakat menggunakan alat yang sangat sederhana, bekerja secara bergotong-royong, pria, Wanita, pemuda dan anak-anak bahu membahu membantu kegiatan bakar batu ini hingga tuntas.

Galeri-Barapen-02--PG

Babi yang telah dipanah kemudian dibakar untuk menghilangkan bulu-bulunya. Tidak ada satupun pemuda maupun orang tua dikegiatan ini duduk menganggur. Hampir semua orang bekerja sama. Kehebohan ini dirasakan langsung oleh siapapun yang melihat kegiatan ini dari dekat. Keramahan dari suasana kekeluargaan begitu terasa satu sama lain.

Tak lama setelah babi-babi itu dibakar, kemudian dipotong, dan dikeluarkan dalamannya. Proses ini berlangsung cukup lama, dibawah terik matahari. Proses ini pun dibarengi pula dengan dibakarnya kumpulan batu-batu dan kayu bakar juga dedaunan kering.

Proses selanjutnya daging kemudian dipotong-potong dalam ukuran tertentu. Ada pula yang hanya dibelah, setelah bagian dalaman babi dikeluarkan. Disamping para ibu-ibu menyiapkan sayuran dan juga keladi singkong untuk dibakar bersama dalam barapen.

Galeri-Barapen-03--PG

Satu jam proses pembakaran batu, tiba saatnya batu tersbeut dimasukkan dalam lubang-lubang yang sudah disiapkan sebelumnya berukuran satu meter diameternya dan kedalaman sebatas lutut. Lubang-lubang ini sebelumnya sudah ditutup dengan dedaunan dan kulit kayu.

Setelah proses membakar batu yang memakan waktu satu jam, dan terdengar suara ledakan-ledakan batu seperti suara popcorn saling bersahut-sahutan, tandanya batu panas itu siap untuk dipindahkan ke lobang-lobang barapen.

Satu tangkai kayu yang telah dibelah ujungnya berfungsi sebagai pencapit batu-batu panas itu, telah dipegang oleh masing-masing pemuda, yang dibagi dalam dua kelompok. Setelah mendengar aba-aba pemimpin acara, perkelompok mulai berlarian mengambil batu panas itu menggunakan kayu-kayu yang mereka pegang.

Galeri-Barapen-04-PG

Mereka berlari bolak-balik dari lobang satu ke tempat batu-batu yang dibakar. Ukuran batu yang dibakar sendiri tergolong cukup besar. Batu besar berasap ini diangkat hanya dengan dijepit menggunakan ujung kayu. Tak dapat dibayangkan batu ini kemudian terjatuh dan terinjak. Namun untungnya hal itu tidak terjadi, dan proses ini berjalan lancar.

Pada tiap lobang barapen, ibu-ibu sudah menanti dengan dedaunan basah ditangan. Setelah batu ini tersusun di bawah, sejumlah batu juga harus digulung dalam daun-daunan, dan disusun rapi agar panas lobang barapen ini merata, keseluruh daging.

Apinus Wonda, Tokoh Masyarakat Pemuda Kirihi mengatakan seluruh biaya acara syukuran ini adalah murni dari partisipasi dan pengorbanan dari masyarakat. Mereka sangat antusias dan bersuka cita, sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan itulah mereka ingin mengorbankan babi-babi yang dimiliki, ada yang membeli ada pula yang menjadi ternak mereka pribadi.

“Mereka bersuka cita, senang hati dan rasa bersyukur, mereka (kami) punya gereja jadi. Untuk mengungkapkannya ini mereka lakukan barapen. Kami orang pedalaman untuk mengungkapkan rasa syukur tidak lepas dari acara barapen,” tandas Apinus Wonda.

Lewat acara barapen ini juga Apinus Wonda juga berharap sinergitas masyarakat suku pedalaman Kirihi yang ada di pesisir dapat terus terbina dengan baik, bai kantar sesame maupun juga bersama masyarakat Waropen pada umumnya.

“Kita semua bagian dari masyarakat Waropen, kita berharap Kerjasama dan kita bisa saling menghargai dan hidup berdampingan, mendukung program gereja, mendukung program pemerintah,” pungkas Apinus Wonda.

23 Ekor babi yang sudah dibakar secara barapen kemudian dipotong dan dimakan bersama warga Jemaat Sola Gracia, dan tamu undangan pada kegiatan Peresmian dan Pentahbisan Gereja tersebut. (il/af)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button