HeadlineOpini

Empat Sehat Lima Sempurna Dalam Jurnalistik

Disampaikan Pada Workshop Jurnalistik Peliputan Pekan Paralimpik Nasional 2021 Provinsi Papua

1. Kaidah Faktual
Prinsip pertama dalam jurnalistik adalah faktual. Makna faktual yang terbiasa difahami dalam idiom teori jurnalistik adalah material. Meluputi ruang (volume) dan waktu. Contoh berita: Danau Sentani Meluap. Bahwa meluapnya Danau Sentani adalah fakta yang dilihat sendiri oleh seorang jurnalis.

Jika seoramg wartawan hanya tahu Danau Sentani Meluap dari kata orang sebagai sumber berita. Maka ini baru fakta verbal. Belum fakta ferivikatif. Fakta verbal membutuhkan fakta verbal lain sebagai konfirmatif, pembanding dan penyanding untuk keseimbangan berita.

Contoh Kalimat pada materi waktu: Jam tidur para Atlet Paralimpik adalah pukul 21.00. Atau Pukul 21.00 adalah jam tidur Atlet Paralimpik. Disini waktu termasuk kedalam dimensi ke empat setelah tiga dimensi materi ruang. Sehingga kaidah faktual menjadi terpenuhi.

Dalam berita yang membutuhkan fakta material, preposisi atau intiza sebuah kalimat diferivikasi oleh panca indera wartawan

2. Kaidah Logika
Dikenal dengan Jurnalistik Logis. Karena dalam setiap kalimat dalam berita terdiri dari subjek sebagai konsepsi dan predikat sebagai afirmasi, maka haruslah terferivikasi soal kejelasan subjek dan kesahihan justifikasi predikat atas subjek secara logis.

Dalam kaidah logika seorang wartawan harus mengerti apa itu definisi dan apa itu argumentasi.

Definisi adalah penyebutan genus dan pembeda. Contoh: Misalnya apa definisi mobil itu?

Mobil adalah kendaraan bermotor yang beroda empat. Pesawat adalah alat transportasi yang bisa terbang. Alat transporatasi itu genus. Bisa terbang itu pembeda.

Argumentasi adalah tata cara silogisme untuk menghasilkan kesimpulan atau konklusi yang benar. Contoh: semua profesi membutuhkan keahlian. Wartawan adalah sebuah profesi. Kesimpula : Wartawan membutuhkan keahlian.

Ilmu logika adalah kaidah berfikir agar tidak terjerumus kedalam pemikiran salah. Suatu metodologi yang dengannya kesalahan berfikir bisa dihindari. Ilmu yang membahas definisi dan argumentasi. Bisa disebut tata kelola isi kepala. Di Papua bisa dikenal Obat Otak Mati.

Sebuah berita harus tunduk kepada kaidah logika yang kritis. Karena pers memiliki fungsi kritik, koreksi atau kontrol sosial yang ditetapkan dalam UU Pers.

3. Kaidah Metafisika
Dikenal juga Jurnalistik Jiwa. Manusia adalah jiwanya. Jiwa adalah hal atau entitas metafisika. Manusia wartawan atau jurnalis adalah pelaku pekerjaan pers yang berjiwa.

Subjek bahasan yang ditulis oleh wartawan merupakan fakta dan peristiwa yang merupakan realitas yang merentang.

Maka pekerjaan pers tidak terlepas dari kaidah metafisika, oleh karena pelaku sembagi jiwa dan subjek bahasan juga sebagai entitas-entitas yang hidup. Ada berita yang nampak secara luar permukaan secara materi dan ada juga realitas dibalik berita secara immateri atau metafisis.

Terlebih dalam menulis Pekan olahraga Paralympic dan Peparnas dimana membutuhkan kemampuan membuat karya jurnalistik yang melibatkan jiwa secara cakap. Bahwa keterbatasan para atlet hanya sebatas di fisik saja. Sedangkan jiwanya utuh. Jiwa yang penuh semangat bahkan bisa melebihi semangat orang yang fisiknya tak punya keterbatasan. Bahkan kata CACAT seperti hendak dirobohkan. Yang ada adalah jiwa-jiwa setara yang penuh semangat.

Jurnalistik jiwa lah yang akan mampu menulis dan melukiskan atlet Paralimpik bukan dengan kacamata iba. Melainkan mampu melihat jiwa mereka yang menyala-nyala melebihi semangat orang biasanya.

Tulisan yang hidup hanya mungkin dihasilkan dari Jurnalistik Jiwa yang mampu melihat dengan penglihatan jiwa. Mendengar dengan pendengaran jiwa. Bagaimana tangisan hutan yang dibalak liar. Bagaimana jeritan laut yang dicemari. Keluhan sungai yang dikotori.

Hanya jiwa wartawan yang uptrend, gerakan substansi naik yang akan menghasilkan karya Jurnalistik Jiwa. Wartawan yang memeras menyerupai preman, jiwanya mengalami downtrend, gerakan substansi turun.

4. Kaidah Agamis
Wartawan Indonesia berketuhanan yang maha esa. Tidak ada ruang dalam Pers Nasional bagi atheisme. Setiap wartawan memegang kitab sucinya masing-masing sesuai kepercayaan masing-masing.

Setiap wartawan adalah makhluk imanen yang selalu dan senantiasa merasa seluruh gerak gerik hatinya disaksikan oleh Tuhan. Bagaimana berkehidupan keagamaan yang baik juga diterapkan dalam membuat karya jurnalistik.

5. Praktik dan Etik Jurnalistik
Kalau empat kaidah sebelumnya menjelaskan dan bagaimana memahami apa sebenarnya jurnalistik itu?

Pada bagian kelima adalah apa yang harus dilakukan dalam praktik jurnalistik itu.

Pertama, jiwa wartawan harus lah bersih dari selain praktik jurnalistik yang independen.

Kedua, keahlian, skill dan jam terbang sehingga menghasilkan karya jurnalistik bermutu sesuai empat kaidah diatas. Terhindar dari karya jurnakistik ecek-ecek karena tidak mengindahkan empat kaidah tadi.

Ketiga akhlak wartawan. Karena mengemban tugas suci menarasikan riak-riak kebenaran, wartawan perlu terhindar hal-hal tercela dimata adat istiadat masyarakat, hukum pemerintah, hukum Tuhan dan perihal sopan santun. Dan dapat bernarasi dengan bahasa yang bermartabat.

Sekian dan Terimakasih. (Abdul Munib)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button