OlahragaOpini

Sudah Lama Tidak Nulis Persipura

Abdul-Munib
Abdul Munib

Ketika Persipura diangkat HB Samsyi di tahun 1994 dari Divisi Satu ke Divisi Utama, saya dengar ceritanya dari beliau sendiri di rumahnya di bilangan Dok Lima Bawah. Baku sebelah SMP Satu Jayapura.

Almarhum HB Syamsi adalah tokoh utama dan pertama yang meletakkan dasar atau pondasi pada persepakbolaan Papua termasuk Persipura. Dari tangannya bukan saja lahir pemain bagus tapi juga seluruh pelatih bagus.

Ia memang ilmuan olahraga di jamannya. Untuk Papua. Lelaki asal Lebaksiu, Tegal Jateng sosok yang gigih, bersahaja dan pantang menyerah. Dia tak bisa bahasa Inggris lancar, tapi buku olahraga terbitan Eropa ada semua. Saya lihat sendiri, kata-kata dalam buku itu penuh coretan terjemah bahasa Indonesia. Lelaki pengikut ajaran Budha Gautama ini adalah pembelajar yang gila ilmu olahraga. Ketukusannya mirip dengan dokter Sudanto, alias dokter Rp 500. Pengikut Katolik asal Kebumen ini sangat bersahaja memberikan hatinya untuk pelayanan kesehatan masyarakat Papua. Kehidupan ini selalu ada saja menyediakan orang-orang tulus berdedikasi tinggi seperti mereka.

Syamsi tahu persis bagaimana Volume Oksigen seorang atlet harus naik. Dengan rumus latihan bagaimana kecepatan seorang pelari bisa tambah. Ia hafal anatomi. Ia juga faham gizi. Karakter makanan yang tepat sesuai efektifitas pembakaran. Ia juga psykolog ulung, sangat mengtahui kejiwaan orang perorang atlet binaannya.
**
Ketika diperintah Pak Karafir (Bupati Jayapura yang juga Ketum Persipura saat itu) dia tak menampik. Perintah itu begitu mendadak.

“Saya ini rakyat. Bapak adalah pemimpin. Apapun yang diperintahkan saya siap.” kata Syamsi mengenang perintah waktu itu. Perintah itu adalah mengganti pelatih sebelumnya dalam kondisi Persipura terseok. Timnya babak belur. Kondisinya penuh perpecahan oleh satu dan lain hal persoalan klasik. Padahal sebelumnya, para pemain adalah pemenang PON 1993.

Syamsi memulai merakit kembali Persipura yang masih terdegradasi itu. Syamsi masih menyimpan klipingan Tabloid Bola saat Persipura degradasi di pertengahan era 1980-an. Begini judul berita di kliping itu: Persipura, Nasibmu Hitam Sehitam Kulitmu.

Kliping itu Syamsi simpan sebagai cambuk. Bahwa kegagalan itu keberhasilan yang masih disewa orang. Dan suatu saat haru dikembalikan ke kita.

Persiku Kudus dan Persidafon berkibar di papan atas. Persipura merangkak dari bawah. Bahkan lolos ke babak selanjutnya juga oleh karena lantaran menang adu lempar koin. “Persipura menang pada sisi gambar rumah gadang Minangkabau pada koin seratus rupiah,” ujar Syamsi.

Katanya, ini bagi orang umum dilihat sebagai jalan memalukan dan terhina, tapi harus dilalui. Dan jembatan kecil ‘menang koin’ inilah yang akhirnya meloloskan Persipura ke liga utama Indonesia (Ligina).

Kerendahan hati. Itulah dasar Second Live, atau Kehidupan Kedua Persipura, setelah terpuruk beberapa tahun.

Kendati kemenangan melalui koin itu tidak keren, tapi itu menunjukan ketidak-berdayaan manusia. Dalam waktu bersamaan, itu menunjukan betapa penyertaan Tuhan terjadi kapan saja dan dimana saja. Hanya seringnya kebanyakan kita tidak menyadarinya. Koin keberuntungan. Koin Penyertaan Tuhan.

Persipura sisa yang sekarang ini adalah Persipura Koin. Jati diri kerendahan hati. Siapapun membawanya menjadi sombong atau besar diri itu tidak bijak sana.

Banyak nama-nama besar terpatri dalam Peraipura. HB Shamsi, Henky Rumere, Henky Heipon, Johanes Auri, Timo Kapisa, Bob Sapai, Marten Kaiba, Yafet Siby, Nico Dimo, Jacob Rumayom, David Sidui, Ritam Madubun, Isak Fatari, Boas Salosa. Dikalangan pengurus Barnabas Youwe, Pieter Karafir, Spencer Invandi, Rudi Setiono, Iwan Nasarudin, MR Kambu, Rudi Maswi, Benhur Tomy Mano. Banyak sekali orang-orang berhati besar yang saya tidak bisa sebut nama satu persatu karena saking banyaknya.

Yang ajaib adalah dari hati mereka tetap satu ketika disebut nama Persipura.

Dalam bahas ngapak HB Syamsi: Sumeleh. Persipura yang tidak padat, sehingga setiap jiwa manusia di Papua berumah disitu.
–Abdul Munib–

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button