Opini

Rakyat Terus Memakrifati Jokowi, Siapa Dia Sebenarnya ?

Yang saya senang dari Jokowi adalah ia diobservasi sebagai ‘bukan teman’ oleh Amerika. Ini ditandai dengan gonggongan anjing-anjing yang dialamatkan kepadanya dalam tujuh tahun kepemimpinannya. Yang dijustifikasi sebagai ‘bukan teman’ Amerika selalu akan mendapat gangguan langsung.

(Walau pun yang diindentifikasi sebagai teman seperti Soeharto dan SBY. Pun hanya dijamin di masa awalnya, tapi diakhirnya ketika masa berlakunya habis, toh dibuang juga. Begitulah model kerjanya Adikuasa, temannya hanya diperalat sesaat habis itu dibuang sepahnya. Lihat saja yang terjadi pada kehinaan keluarga Soeharto dan SBY pada akhirnya boroknya diudal semua)

Jokowi sebenarnya tidak menentang-menentang banget. Masih pake Sri Mulyani. Masih ngutang luar negeri. Dalam bidang duit, Indonesia masih tunduk patuh kepada IMF dan Bank Dunia. Masih anak baik. Anak manis Mamarika Bojone Om Sam. Indonesia masih jadi pengutang yang empuk. Sasaran yang menguntungkan globalis secara ekonomi. Di Indonesia tak ada kekuatan swadaya yang berarti, yang harus mengeluarkan dana banyak ekspansi militer seperti ke Timur Tengah. Kekuatan tunggal pemerintah bisa dikendalikan oleh partai-partai oligarki.

Jokowi hanya melirik sedikit ke Cina karena cara dagang Cina sederhana tidak ribet. Beda dengan kalau bisnis sama orang Bule, karep dan tetek-bengeknya banyak.

Dollarnya bisa jadi peluru politik, beda dengan Yuan. Ini yang membuat seluruh proxy Barat di Indonesia gerah. Kalau bahasa dulu antek-antek, menggonggong setiap waktu. Apalagi era digital. Dimana etika membuat berita tidak diatur disana. Di mainstrean konvensuinal maupun di digital Sosmed, narasi dikuasai proxy Barat. Sampai orang yang selama ini berada di belakang layar seperti Mardigu pun harus turun lapangan langsung. Tapi ada baiknya peta ‘Bayangan’ jadi terkuak semua.

Bagi saya Jokowi tidak konkruen dengan Megawati. Walaupun ada irisan yang sama, yakni perjanjian dukungan 20 persen partai presiden treshol, juga bersama partai pendukung lain. Pembalakan kabinet. Penjarahan jabatan menteri sudah ada dalam perjanjian itu. Dalam sistem sekarang tak akan bisa seseorang jadi Capres tanpa 20 persen suara DPR-RI. Kita sedang ada dihakikat sistem Parlementer dengan bungkus Persidentil. Kita sudah mengubah hakikat konstitusi secara tidak terasa. Ke depan kita harus selesaikan PR ini. Ini bahaya kenena titik lemah ini akan mengundang pihak musuh ingin menbelah Indonesia.

Diluar dugaan Jokowi menetapkan Hari Santri. Ini adalah hal yang sangat tabu dilakukan oleh presiden yang dibawah kendali norma sistem kekuasaan Barat. Dimana agama harus disingkirkan dari kekuasaan dan hanya sebagai pendukung cadangan statis di masyarakat.

Jokowi bukan pemain catur yang baik sebagaimana didakwakan padanya. Ia bahkan bukan pemain catur. Ia orang yang sudah terikat dengan partai pendukung. Kekuasaannya terbatas. Anak buahnya terbatas. Ia hanya bidak kuda yang terus mencoba bermain mandiri, untuk memungkinkan narasi kebaikan bangsa ini masih bisa dituliskan. Bidak kuda yang lincah, walau beberapa kali hendak dijerat dan dijiret seperti dilakukan oleh mereka pada Gus Dur dahulu. Gerakan 411 dan Gerakan 212 untuk gulingkan Jokowi. Sampai sekarang masih bisa digagalkan. Semoga bisa sampai ke 2024 sesuai masa jabatannya.

Butuh rakyat cerdas untuk dapat membela Pemimpin tulus seperti Gus Dur dan Jokowi.

Sayang kecerdasan itu sudah dirampas sejak dari dalam pendidijan nasional kita yang 100 persen berkiblat ke Barat sejak Politik Etis sekolah Ongko Loro tahun 1901. Disana kita hanya digemukkan untuk disembelih. Setelah Jokowi mungkin kita tak menemukan lagi, kuda selincah ini.

Mbah Karsono : Nggeh iklas mawon. Tetep ngaji bulan poso.

Ketelimbeng : Nagbuburit Mbah sambil cari rumput untuk makan kambing.

Angkringan Falsafah Pancasila

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button