Papua Global News
Tampak perahu-perahu dayung tradisional pada kemeriahan acara tersebut
Uncategorized

Budaya adalah Jati Diri”: HUT ke-39, Erensias Ruamba Gelar Lomba Dayung Ukir di Teluk Ampimoi

Kepulauan Yapen, PapuaGlobal.Com |13 Oktober 2025 — Dalam semangat “Budaya adalah Jati Diri”, Erensias Ruamba, S.Pi—kader PDI Perjuangan wilayah Saireri, yang tepat memasuki usia ke 39 Tahun, menginisiasi rangkaian Lomba Dayung Tradisional di Kawasan Teluk Ampimoi, Distrik Teluk Ampimoi, Kabupaten Kepulauan Yapen. Agenda yang bertepatan dengan HUT ke-39 Erensias Ruamba ini dihadirkan sebagai ungkapan syukur sekaligus gerakan pelestarian budaya Suku Ampari, terutama seni ukir pada perahu tradisional.

Rangkaian lomba melibatkan tim dan perorangan, untuk putra maupun putri, menggunakan perahu tradisional berukir. Tercatat 90 perahu menghiasi perairan Teluk Ampimoi: 11 perahu berkapasitas 10–15 orang (kategori tim), 22 perahu berkapasitas 2 orang, serta 57 perahu satu orang. Seluruh perahu menampilkan ukiran khas yang menjadi identitas kultural masyarakat setempat.

ER menyerahkan hadian kepada salah satu peserta

“Budaya itu cara hidup dan identitas yang diwariskan. Karena itu harus dijaga bersama—pemerintah dan masyarakat adat,” ujar Erensias Ruamba dalam sambutannya. Ia menekankan, pelestarian budaya bukan sekadar seremoni, melainkan adaptasi dan solusi menghadapi tantangan zaman, sekaligus pendidikan nilai bagi generasi muda.

Penyelenggara menyiapkan trofi dan uang pembinaan bagi seluruh 90 perahu/peserta, di samping penghargaan khusus bagi para juara tiap kategori. Skema ini diharapkan memperluas partisipasi, mengapresiasi kerja kreatif para pengukir, sekaligus menjaga kesinambungan tradisi bahari Ampari.

Ruamba juga mengajak pemerintah di wilayah Saireri dan masyarakat adat untuk terus berkolaborasi menjaga ekosistem budaya: mulai dari regenerasi pengukir, event tahunan, hingga integrasi nilai budaya dalam pendidikan lokal. “Budaya suku Ampari—khususnya di Teluk Ampimoi—adalah jati diri masyarakat Katelmoi. Tugas kita, mempertahankan dan mewariskannya,” tegasnya.

Kegiatan ini ditutup dengan doa syukur dan seruan kebersamaan. Selain memantik kebanggaan atas warisan budaya, momentum di Teluk Ampimoi diharapkan menjadi pemicu gerakan pelestarian yang lebih luas—bahwa ukiran pada perahu bukan sekadar hiasan, melainkan simbol martabat, persatuan, dan harapan generasi Ampari.

Redaksi : EL