Waren – Suasana haru dan khidmat menyelimuti Tugu Pekabaran Injil di Kampung Waren saat jemaat dari berbagai denominasi gereja bersama pemerintah daerah memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Pekabaran Injil (PI) ke-98 di Tanah Waren. Momentum bersejarah ini menjadi simbol pengingat transformasi peradaban yang dimulai sejak misi penginjilan pertama menapakkan kaki 98 tahun silam.
Ibadah Syukur dihadiri Bupati Waropen Drs. Fransiscus Xaverius Mote, M.Si, Ketua DPRK Waropen Yeneke Dipan, S.Sos, Ketua TP PKK Waropen Ny. Bernadeta Goo Mote, Ketua GOW Waropen Ny. Yohana Boari, Mantan Bupati Waropen Yesaya Buinei, Perwakilan Polres Waropen Kasat Sabara Otow Satia dan Perwira Penghubung Kodim 1709 Yawa Mayor Inf Marsamuel Makanuay.

Pdt. Yehuda Buinei dalam memimpin ibadah syukur yang mengusung tema “Pertobatan Mendatangkan Keselamatan” merujuk pada Kitab Yunus 3:1-19. Dalam khotbahnya, menekankan bahwa Injil adalah cahaya yang tidak pernah padam di tengah kegelapan.
“Pertobatan tanpa kompromi menuntut pemutusan hubungan sepenuhnya dengan cara hidup lama. Jika sebelumnya berjalan menjauh, kini saatnya berbalik sepenuhnya menuju kebenaran,” tegas Pdt. Yehuda dalam pesan spiritualnya.
Ia juga mengajak pemerintah, lembaga adat, dan institusi agama untuk merefleksikan peran Injil dalam setiap pengambilan kebijakan dan komunikasi sosial di tengah masyarakat.
Sementara itu Dalam sambutan Bupati Waropen Drs. Fransiscus Xaverius Mote, M.Si menyampaikan pesan mendalam mengenai esensi kehadiran Injil di hati masyarakat Waropen. Menurutnya, Injil masuk ke Tanah Waren karena Tuhan mengetahui siapa yang benar-benar membutuhkan keselamatan.

“Pertobatan bukanlah tanda kelemahan, melainkan keberanian untuk mengakui kekurangan diri, memperbaiki diri, serta meninggalkan hal-hal yang tidak berkenan di hadapan Tuhan. Ini adalah keberanian untuk mengampuni dan menerima sesama,” ujar Bupati Mote.
Senada dengan hal tersebut, Wakil Ketua I Suku Besar Maranauri Waren, Abnel Dori, S.Pd, memberikan catatan reflektif mengenai nama “Waren”. Ia mengajak seluruh masyarakat untuk memaknai kata tersebut sebagai akronim dari “Wajib Merenungkan” apa yang telah diperbuat untuk tanah kelahiran tersebut.
Menuju satu abad (100 tahun) Pekabaran Injil di Waropen dua tahun mendatang, peringatan ini menjadi komitmen bersama untuk menjaga api iman agar tetap menyala, menerangi pembangunan di Kabupaten Waropen. (afp).

