Papua Global News
Opini

Akhlak, Ekonomi dan Politik Pancasila

Sila ke lima dalam Pancasila adalah filosofi atau falsafah praktek dari empat sila sebelumnya sebagai nalar dan aturan main.

Sila ke lima adalah landasan gerak.

Sila pertama, kedua dan ketiga sebagai nalar yang harus menjadi pemahaman mendasar dan satu kesadaran umum bangsa Indonesia. Sila ke empat sebagai tata cara, aturan main atau role of the game. Dan sila ke lima adalah why do you do ? Mengapa dan bagaimana kita mengerjakan ? Dan what do you do ? Apa yang akan kita kerjakan ?

Dalam filsafat praktek ada tiga ranah yang menjadi wilayah gerak. Pertama adalah moralitas atau akhlak Pancasila. Dalam makna ini banyak kesamaan dengan yang di jaman Orde Baru digalakkan oleh Soeharto berupa kurikulum PMP (Pendidikan Moral Pancasila) dan P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila). Sayang semua itu hanya dijadikan jargon tapi pelaksanaannya bertolak belakang : KKN. Latihan lain main lain.

Kedua adalah bagaimana memanifestasikan Pancasila dalan lapangan ekonomi Pancasila.

Bukan ekonomi liberal seperti Barat. Bukan juga ekonomi komunis internasional (komintren). Kita harus mencari model di tengah-tengahnya. Di bagian ini kita telah gagal, praktek ekonomi kita condong ke Barat.

Ini terus menjadi PR bangsa Indonesia, terutama bagi generasi muda yang akan dipasrahi perkara bangsa dan negara ini.

Ketiga ranah politik. Sudah 75 tahun kita merdeka masih mencari bentuk bagaimana Pancasila dimanifeatasikan dalam politik. Bukan politik ala Barat. Bukan juga politik ala komunis internasional. Politik kita cenderung condong ke Barat sehingga serba voting dan full money politik.
*

Dua kutub moralitas Barat banyak mempemgaruhi cara pandang dunia dalam melihat moralitas. Satu sisi adalah moral merkantilisme yang mengagungkan kebebasan tanpa batas dalam mencari kepuasan individu. Ini yang diagungkan oleh budaya liberalisme Barat.

Satu sisi yang sebelahnya ingin agar seluruh manusia mendapat kepuasan bersama-sama. Ini yang melahirkan komunisme dengan jualan ‘sama rata sama rasa’. Dua pandangan moral dari Barat ini yang pada dataran prakteknya telah melahirkan Perang Dingin (Cold War) di paruh kedua abad 20. Sama-sama ideologi materialis yang berbeda dalam melihat pandangan moral. Sejarah menyatakan yang satu, yakni komunisme, telah tewas. Dan yang ekonomi liberal masih menunggu waktu. Sampai generasi baru dunia menyadari sesadar-sadarnya bahwa metode ekonomi liberal terbukti tak menyelamatkan umat manusia.

Perang di Timur Tengah hari ini adalah uji coba terakhir kegagalan kapitalisme liberal yang dikawal oleh peradaban Barat. Berhadapan dengan poros perlawanan yang dikomando Republik Islam Iran.

Frasa sila kelima Pancasila, – Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indoneaia, identik dengan nubuat agung di dunia Islam dan Kristen tentang datangnya Imam Mahdi dan Yesus. Dimana misi utama keduanya adalah membuat tatanan dunia dipenuhi oleh keadilan. Bagai jamur di musim hujan. Sebagaimana menjamurnya ketidak-adilan dijaman sekarang.

Mbah Karsono : Nyimak Kang

Angkringan Falsafah Pancasila

Artikel Terkait

Pemda Waropen Lakukan Pertemuan dengan Pemilik Hak Ulayat dan Lakukan Pengukuran Tanah Pasar Urfas

Redaksi

Kelurahan Samofa Kelola Booth UMKM untuk Tingkatkan PAD dan Atasi Masalah Sosial

Mail

LLK Biak: Tiga Kejuruan Kembali Dibuka, Peserta Antusias

Mail