WAROPEN-Pemerintah Kabupaten Waropen Perkuat Ilmu Mitigasi Bencana dan Pengurangan Resikonya sebagai bentuk komitmen memperkuat dan mengoptimalkan perencanaan pembangunan, lewat kegiatan Sosialisasi Mitigasi Tanggap Bencana Darurat Abrasi Pantai.
Kegiatan digelar di Gedung Pertemuan Nonomi, Waren, Senin (23/5) diikuti oleh 60 peserta dari kampung yang terdampak abrasi, selama beberapa tahun terakhir ini. Kegiatan ini dibuka langsung oleh Bupati Waropen melalui PJ Sekda Waropen Jaelani, AP, M.Si. Juga dihadiri sejumlah pimpinan OPD dan Kepala Distrik Waropen Bawah dan Urei Faisei.
Bupati melalui Pj Sekda Jaelani menyadari bahwa Waropen sudah masuk dalam zona merah bencana abrasi pantai. Tiap tahunnya sejumlah Kawasan pesisir terdampak dari bencana ini. Soal sosialisasinya ini pun dianggap penting untuk disadari dan diketahui oleh warga-warga yang terdampak, mulai dari Kampung Sanggei di Urfas, hingga ke Sarafambai Distrik Waropen Bawah
Sebab musibah ini, bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah daerah, tetapi juga warga masyarakat, perlu menyadari pentingnya penanggulangan sejak dini yang dilakukan ditingkat-tingkat kampung. Jangan sampai abrasi ini menyebabkan kerugian yang besar bagi warga.
“Untuk itu kita harus siap, jangan nanti ada abrasi baru kita bergerak, tapi sebelum abrasi itu terjadi kita sudah harus siap dan mencari solusi untuk mengantisipasinya,” kata Penjabat Sekda Waropen Jaelani.
Langkah sederhana yang perlu disadari bersama adalah tidak lagi melakukan pengerukan pasir dan pengambilan material karang di pesisir Pantai Waropen. Karena itu dapat mempercepat proses abrasi pantai, terlebih mampu menghilangkan setidaknya satu hingga dua meter daratan pertahunnya. Peraturan ditiap-tiap kampung pun mestinya harus tegakkan mengenai Langkah ini.
Hal senada disampaikan Kepala BPBD Waropen Lamek Sawaki, bahwa akibat perubahan iklim global setiap bulan Januari sampai Maret dan Agustus sampai Oktober, Kabupaten Waropen sering terjadi abrasi akibat gelombang angin yang melanda pesisir pantai kampung Sanggei sampai dengan Kampung Batu Zaman, dan Sarafambai. Kondisi ini juga perlu disadari dirasakan sejumlah warga di Distrik Masirei dan Oudate.
Dikatakan Lamek Sawaki, sejauh ini BPBD Waropen telah melakukan kunjungan kesemua titik rawan bencana guna mensosialisasikan tanggap bencana serta memberikan bantuan kepada korban bencana baik berupa sembako maupun berupa perumahan.
Disebutkan, untuk mengatasi abrasi langkah yang di lakukan pemerintah saat ini adalah, rencana pembangunan Talud pemecah gelombang. Yang menurut rencana dianggarkan senilai 10 miliar rupiah. (FA).

