HeadlinePapua Selatan

Walau Hasilnya Negatif, Keluarga Pasien Covid Pertama di Papua Masih Dijauhi

Jayapura,- Ketakutan dan rasa khawatir selalu menghantui Ernawati (46). Rasa khawatir ini muncul dikarenakan sikap masyarakat usai mendengar sang suaminya, Andi Rahmad Najib, adalah pasien Covid-19.

Ernawati yang dihubungi melalui telephon selulernya mengatakan, suaminya Andi masih berada di rumah orang tuanya di Merauke. Sebab sesuai SOP penanganan pasien Covid, sesudah pemeriksaan Polymerase Chain Reaction (PCR) dan dinyatakan negatif alias sembuh, si pasien diperbolehkan pulang ke rumah, tetapi wajib menjalani isolasi mandiri di rumah selama 14 hari lagi.

“Sejak tanggal 15 Maret, kami belum keluar rumah. Kami sudah dapat kabar dari Tim Satgas dari Jayapura bahwa hasil kami negatif. Kalau bisa pemerintah bisa beri tahu ke masayarakat bahwa kami ini sudah aman, kami tidak menularkan ke orang lain biar masyarakat bisa berinteraksi dengan kami. Memang kali lalu ada rencana dokter di sini mau kasih surat keterangan ke kami bahwa hasilnya negatif. Masalahnya, dengan surat itu belum tentu masyarakat tahu dan bisa percaya. Mereka bisa berpikir kami ngaku-ngaku saja dan tetap jauhi kami,” kata Ernawati.

Ernawati adalah guru matematika SMK Negeri 1 Obaa. Sementara suaminya Andi berwiraswata. Mereka memiliki 4 orang anak. Dua di antaranya berada di Jawa untuk melanjutkan studi. Di Kepi, ibukota Kabupaten Mappi, mereka memiliki toko kelontongan. Namanya Bhakti.

“Kami belum buka toko sampai sekarang. Saya mengerti, bahwa pemahaman masyarakat terhadap virus Corona ini tidak sama. Takutnya mereka bereaksi lain. Jadi kami berada di rumah saja,” ujarnya.

[penci_related_posts dis_pview=”no” dis_pdate=”no” title=”baca juga” background=”” border=”” thumbright=”no” number=”4″ style=”grid” align=”none” withids=”” displayby=”cat” orderby=”date”]

Untuk memenuhi kebutuhan bahan makanan mentah seperti sayur, Ernawati mengaku ia selalu meminta bantuan saudaranya di Kepi untuk membeli dan mengantarnya. Biasanya empat hari sekali. Dan Ernawati hanya mengambilnya di pintu gerbang rumah.

“Kami benar-benar dalam rumah saja. Jadi bagaimana reaksi orang di luar terhadap kami, kami tidak tahu. Tapi dengar-dengar, banyak orang memang menjauhi kami. Saya mengerti karena ini penyakit ini baru dan menakutkan,” ujarnya.

Ernawati mengisahkan, keinginannya untuk memeriksaan diri adalah niat pribadi. Itu terjadi usai suaminya mengabarinya lewat telpon bahwa rekannya yang sama-sama menghadiri Seminar Masyarakat Anti Riba di Bogor, meninggal dunia.

“Saya jadi ketakutan waktu itu. Jadi saya telpon dokter langganan BPJS saya. Karena sebelum ke Merauke, saya sempat kontak dengan suami saya lima hari selama di Kepi. Saya tanya ke dokter itu, apa yang harus saya lakukan agar saya tidak menularkan ke orang lain, karena saya takut saya sudah tertular. Mereka minta kami isolasi diri. Jadi tanggal 15 itu saya mulai tidak pergi mengajar. Dua anak saya juga tidak pergi sekolah,” tutur Ernawati.

[penci_related_posts dis_pview=”no” dis_pdate=”no” title=”baca juga” background=”” border=”” thumbright=”no” number=”4″ style=”grid” align=”none” withids=”” displayby=”recent_posts” orderby=”date”]

Ia berharap, dari kasus yang dialaminya, masyarakat dimana pun jangan terlalu menyudutkan keluarga pasien Covid. Sebab virus ini datang sebagai bencana yang tak terduga. Siapa saja bisa kena penyakit ini.

“Dan dampaknya juga ke masyarakat. Kasus ini kan suami saya dan keluarga di-bully habis-habisan di media sosial dengan bahasa-bahasa yang tidak enak. Kita menjaga dampaknya, jangan sampai orang yang punya gejala Corona, dia takut melapor ke petugas kesehatan untuk memeriksakan diri. Dia sembunyikan, lalu tularkan keluarga dan orang lain, kan lebih bahaya,” kata Ernawati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button