Dalam pidato Bung Karno di rapat BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) menyitir kata ‘Hulupis Kuntul Baris’. Burung kuntul kalau terbang berbaris menyerupai kurva seperti huru V. Burung yang memimpin di posisi paling depan, paling tadah angin. Ia harus yang paling kuat otot sayapnya diantara burung lainnya.
Dalam konteks manusia, pemimpin kuat bukan makna ototnya saja. Tapi juga ilmunya. Bastotan fil ilmi wal jismi. Kuat dalam jasmani dan ilmu (rohani). Juga memliki kecerdasan spiritual. Pribadi yang bersih. Entitas jiwa yang mujjarad. Pemimpin sederhana. Yang tidak berpikir bagaimana mencuri dari kekuasaan yang ada di tangannya.
Pemimpin yang mengerti mana kesepakatan dengan Tuhannya dan mana kesepakatan dengan sesama manusia.
Berbangsa dan bernegara adalah kesepakatan antar sesama manusia, untuk menjadi satu bangsa dan satu negara. Kesepakatan ini mengikat diantara kita. Bahkan setiap orang beriman diperintahkan oleh Tuhan untuk menepati janji. Ya ayyuhal ladzina amanu aufu bil uqud, tepatilah janji. Sehingga memahami komitmen berpancasila, selain karena kewajiban menepati kesepakatan janji, juga karena perintah agama.
Untuk itu TNI dan Polri, kedepan perlu diberi wewenang melalui undang-undang, untuk dibuat satu pasal membuat formulir siapa yang mau khianat dari kesepakatan Pancasila. Supaya jentel. Jangan main tusuk belakang. Kalau mau keluar dari kesepakatan yang telah dibuat selahkan, dengan terus terang dan dengan suka rela.
Pemimpin berpancasila tak akan menyakiti dan melemahkan hati rakyatnya dengan hidup bermewah-mewahan. Sementara rakyatnya hidup dalam kesusahan. Kenapa pakaian hari-hari para nabi selalu pakaian yang sama dengan pakaian orang paling miskin ? Supaya hati fuqara dan masakin tidak nelangsa tunggara ditinggal sendirian. Ini etika kepemimpinan yang mulai ditinggalkan atas nama jaman modern.
Sikap pemimpin yang mengerti hal ini akan sangat menyumbang rasa keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Mbah Karsono : Apik nek pemimpin iso koyo ngene
Ketelimbeng : Kita dilanda budaya aji mumpung
angkringan falsafah PANCASILA
(Abdul Munib)

