Papua Global News
Abet Mote
Abet Mote
Opini

Saatnya Putra Papua Pimpin Freeport

Abet Mote Diwakili Sala Satu Kaum Pengganguran Anak Asli Papua, Inilah Keterangan Kami. “Kepada yang terhormat presiden Republik Indonesia (RI), Bapak Presiden Prabowo Subianto.

Oleh : Abet Mote.

Di tengah arah baru pembangunan nasional di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, wacana tentang pemerataan peran putra daerah dalam sektor-sektor strategis kembali menguat. Salah satu figur yang mencuat ke permukaan adalah Frans Pigome, SE, putra terbaik Papua yang kini menjabat sebagai Direktur PT Freeport Indonesia.

Nama Frans Pigome belakangan ramai diperbincangkan bukan hanya karena prestasinya di jajaran manajemen puncak perusahaan tambang raksasa tersebut, tetapi juga karena harapan publik agar dirinya dipercaya menjadi Presiden Direktur PT Freeport Indonesia. Sebuah aspirasi yang mencerminkan keinginan kuat masyarakat agar kepemimpinan nasional benar-benar hadir dalam wajah Indonesia yang beragam — dari Sabang sampai Merauke.

Representasi dan Keadilan Ekonomi

Freeport Indonesia bukan sekadar perusahaan tambang; ia adalah simbol dari pengelolaan sumber daya strategis nasional yang beroperasi di jantung Papua. Selama puluhan tahun, nama Freeport melekat dalam dinamika politik, ekonomi, dan sosial wilayah timur Indonesia. Karena itu, menempatkan putra asli Papua di puncak kepemimpinan perusahaan ini bukan hanya soal posisi jabatan, tetapi soal makna dan representasi keadilan ekonomi nasional.

Dalam konteks pemerintahan Prabowo Subianto yang menekankan pembangunan dari pinggiran, langkah semacam ini menjadi sangat relevan. Memberi kepercayaan kepada Frans Pigome akan menjadi simbol kuat keberpihakan negara terhadap pemerataan kesempatan dan kemandirian daerah. Di saat yang sama, ini juga menjadi pesan moral bahwa kepemimpinan di sektor strategis tidak lagi dimonopoli oleh segelintir kelompok, tetapi dibuka bagi setiap anak bangsa yang berprestasi dan berintegritas.

Kepemimpinan yang Visioner dan Berintegritas

Sebagai Direktur PT Freeport Indonesia, Frans Pigome dikenal memiliki rekam jejak profesional yang panjang dan mengesankan, tetapi juga pemimpin yang membangun sistem kerja dengan nilai transparansi, efisiensi, dan tanggung jawab sosial.

Gaya kepemimpinannya menonjol dalam dua hal penting: komitmen terhadap pengembangan sumber daya manusia lokal dan keberpihakan terhadap kesejahteraan masyarakat sekitar tambang. Melalui inisiatif seperti Nemangkawi Mining Institute (NMI), Frans membuka peluang pendidikan dan pelatihan bagi generasi muda Papua agar siap bersaing dalam dunia industri global.

Dalam berbagai kesempatan, ia menegaskan bahwa “kepemimpinan bukan sekadar soal jabatan, tetapi tanggung jawab moral untuk memastikan setiap langkah perusahaan membawa manfaat bagi bangsa.” Pandangan semacam ini langka — dan justru sangat dibutuhkan di tengah dunia korporasi yang sering kali terjebak dalam logika laba semata.

Momentum Kepemimpinan Nasional yang Berkeadilan

Presiden Prabowo Subianto mewarisi visi besar untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang mandiri dalam ekonomi dan berdaulat atas sumber dayanya. Dalam visi itu, perusahaan seperti PT Freeport Indonesia memainkan peran sentral.

Namun kemandirian nasional tidak bisa hanya diukur dari kontrol saham atau besaran pajak yang disetor. Kemandirian sejati terwujud ketika anak bangsa sendiri, terutama dari daerah tempat sumber daya itu berada, diberi kepercayaan untuk memimpin dan menentukan arah kebijakan.

Penunjukan Frans Pigome sebagai Presiden Direktur Freeport, bila terjadi, akan menjadi momentum politik dan moral yang besar: menunjukkan bahwa negara hadir bukan sekadar sebagai pengatur, tetapi sebagai pemberi kesempatan yang adil. Ini akan menjadi precedent penting — bahwa kemampuan, integritas, dan rekam jejak profesional lebih diutamakan daripada faktor-faktor non-substansial.

Papua dan Wajah Indonesia yang Sebenarnya

Papua bukan sekadar wilayah kaya sumber daya alam; ia adalah cermin dari kompleksitas Indonesia itu sendiri — penuh potensi, penuh harapan, namun sering kali terpinggirkan dalam struktur kekuasaan ekonomi nasional.

Menempatkan Frans Pigome di pucuk pimpinan Freeport berarti memberi wajah manusiawi pada pembangunan di Papua. Ini bukan soal simbolisme etnis, melainkan langkah strategis untuk membangun kepercayaan publik bahwa negara benar-benar peduli terhadap keterlibatan anak daerah dalam pembangunan nasional.

Seperti halnya ketika anak bangsa lain memimpin sektor strategis di berbagai wilayah, kini saatnya Papua menjadi bagian dari narasi besar itu — bukan sebagai objek pembangunan, tetapi sebagai pelaku utama.

Penutup: Keberanian Politik dan Kepercayaan Publik

Presiden Prabowo Subianto dikenal sebagai pemimpin yang tegas dan memiliki pandangan jangka panjang terhadap masa depan bangsa. Dalam kerangka besar pembangunan nasional yang berkeadilan, penetapan Frans Pigome sebagai Presiden Direktur PT Freeport Indonesia akan menjadi keputusan yang visioner dan simbolis.

Keputusan itu akan menegaskan satu hal penting: bahwa Indonesia benar-benar berdiri di atas nilai persatuan, kesempatan yang setara, dan penghargaan terhadap prestasi anak bangsa tanpa memandang asal-usul.

Frans Pigome telah membuktikan kapasitasnya. Masyarakat telah menunjukkan dukungannya. Kini, tinggal keberanian politik yang dibutuhkan untuk mewujudkan harapan itu.

Sebab, ketika Papua diberi ruang untuk memimpin, Indonesia sedang membangun dirinya sendiri — dari pinggiran menuju pusat, dari simbol menuju substansi.

*Titipan kata:*

Kami Kaum pangganguran anak negeri Papua mendukung full kepada pak Frans Pigome layak menjadi presiden PT. Freeport Indonesia. 

Inilah Suara kami Kaum pengangguran anak asli Papua

*Hormat kami.!*

Artikel Terkait

TINGKATKAN UPAYA PENCEGAHAN DAMPAK BURUK DAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN PERAIRAN DI JAYAPURA

Papua Global