Papua Global News
Ilustrasi
Ilustrasi
Opini

Irisan Lapar, Renungan Ramadhan (01)

Puasa bukan hanya pernah diwajibkan pada umat Islam saja. Tapi pada umat sebelumnya juga.

Seperti dikatakan sendiri oleh Al Quran, surah Albaqarah ayat 183. Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Apa yang hendak diambil dari rasa lapar ? Makna apa ? Kalau itu hendak memerintah manusia agar manusia memiliki kepekaan sosial kepada orang ditingkat bawah kenapa tidak dalam bentuk tulisan firman langsung saja. Misalnya, pekalah perasaan kalian semua kepada orang tak beruntung. Orang usiran kota raya.

Tidak demikian.

Hissi, atau rasa akan lebih tepat jika disentuh dengan merasakannya. Bukan dengan memikirkannya. Kita disuruh ikut lapar, agar dari rasa lapar itulah kita bisa memahami terhadap realitas sosial bahwa ada orang kurang beruntung yang lapar setiap hari. Karena kekurangan peruntungannya.

Buruk lah puasa seseorang yang hanya memindah jadwal makan dari siang ke malam. Tanpa sampai kepada makna dari irisan lapar, yang menyatukan rasa kita dengan rasa si miskin. Mendidik manusia untuk belajar merasakan pahit getir si miskin.

Kita sedang diajak harus peka terhadap nasib sesama manusia yang tidak beruntung.

Setelah sampai kepada makna irisan lapar yang menyatukan manusia dengan si miskin

maka manusia diberi contoh dalam membayar zakat fitrah. Makanan untuk si miskin. Bukan tiap idul fitri setahun sekali.

Tapi setiap saat tatkala masih menemukan si miskin yang lapar, ketika kita berkemampuan.

Untuk itulah Islam akan selalu menjadi agama politik sampai kapan pun. Karena kalau untuk menebar kebaikan peduli kepada kemalangan si miskin hanya bersandar pada individu, hasilnya tidak maksimal. Politik bisa mengatasi ini secara serentak. Seluruh elemen bangsa ini harus memanifestasikan Sila ke lima. Sebuah spirit nilai yang sama yang ingin diraih dalam puasa. Membentuk masyarakat yang responsif terhadap keadaan yang papa.

Puasa mengajak manusia menemukan pesan dari rasa lapar yang ada dalam dirinya sebagai jembatan mengasihi manusia lain tanpa sekat, karena lapar tak mengenal agama dan suku. Dari situ manusia ngeh, bahwa Tuhannya mendidik dia agar memiliki jiwa yang taat, pintar, dan mengamalkan didikan itu.

Puasa yang tak berakhir pada mengasihani sesama manusia, hanya perubahan jadwal makan dan rasa lapar akan percuma. Taqwa.

Adalah ketika ibadah kita juga terhubung dengan ibadah sosial. Akhlak kita kepada Tuhan dan akhlak kita kepada sesama manusia.

Melalui puasa, Tuhan mendidik manusia lewat rasa.

–Abdul Munib–