Apakah puasa yang tak direnungkan juga tak layak dijalani ? Tentu saja ada keidentikan antara keduanya. Tak berhikmat puasa yang hanya menahan haus lapar. Tak berhikmat puasa yang hanya pindahkan jawal makan dari siang ke malam.
Lalu bagaimana puasa yang sejati ? Puasa yang memberikan efek kuat pada jiwa shoim (orang yang puasa) untuk menjadi peribadi yang lebih memiliki kepekaan sosial. Yang gelisah hatinya ketika di realitas banyak fakir miskin yang untuk makan saja susah. Mereka tak punya cita-cita seperti kita. Satu-satunya cita-cita adalah bagaimana hari ini ada yang dimakan.
Melihat ini semua apa yang harus kita lakukan secara individu maupun secara sosial ? Kalau ini tak dilaksanakan bukan saja puasa kita jadi tak berhikmat, malah shalat kita juga jadi Shalat Wail. Betapa pentingnya beragama di ranah sosial, karena itu bagian tak terpisahkan dalam beragama.
Bahwa puasa itu adalah Tazkiyatun Nafs. Titik awal manusia beragama adalah dari menyucikan jiwa. Kalimat syahadat kita dimulai dari kata La. La ilaha illa Allah. La artinya katakan TIDAK. Tidak untuk semua yang dilarang oleh agama. Tidak untuk semua sesembahan selain Pencipta Taktergantikan. La mubaddila lihalqillah. Tak ada yang bisa menggantikan atau ikut berserikat dalam penciptaan kosmos ini. Tazkiyah Nafs identik dengan Makrifat Khaliq. Makrifat Khaliq akan seiring dengan kesadaran makhluq.
Bahwa tak mungkin kita akan bisa bertemu dalam frekwensiNya yang suci jika kita tak membangun proses penyucian jiwa. Dengan bersikap mengatakan TIDAK kepada seluruh larangan agama. Dan membangun kebaikan jiwa melalui perenungan dan amalan yang sehat untuk jiwa kita.
Jika kita melihat dari tahun ke tahun rakyat Indonesia masih tambah sengsara, berarti ada yang salah dengan puasa kita. Tak ditemukan efeknya berupa jejak-jejak kepedulian dan solidaritas diantara sesama.
Masih mau dibodohi oleh treder agama. Masih suka diadu domba. Beragama bukan tambah peka melihat manusia lain, tapi tambah sombong seperti ibadah Iblis.
Kang Mat, yang nama aslinya Wahyu Hikmat Zaki, kemarin menyebarkan undangan agar seluruh komunitas Angkringan Falsafah Pancasila di Pakandangan untuk acara tahlil.
Doa bersama bagi prajurit kita yang gugur dalam menjaga kedaulatan Bangsa dan Negara kita.
Di kesunyian abadi dasar laut Nusantara mereka telah mereguk cawan syahadah. Mati sahid membela negaranya yang berdasar Ketuhanan yang maha esa. Kami bangga kepada mereka. Juga kepada Bli Putu, yang kemarin gugur di pront depan menjaga kedaulatan negara.
Angkringan Falsafah Pancasila (Abdul Munib)

