Papua Global News
Hamparan Hutan Bakau di Kabupaten Waropen tampak dari foto Aerial.
Ekonomi & BisnisHeadlineInfo Papua

26 Ribu Lahan Mangrove Waropen, Potensial Sebagai Blue Carbon Untuk Dunia

BIAK — Kabupaten Waropen, yang terletak di wilayah adat Saireri, Papua, memiliki potensi alam yang luar biasa dengan luas wilayah hutan mangrove 26 ribu hektar yang menjadi bagian dari solusi perubahan iklim global. Bupati Waropen, Drs. Fransiscus Xaverius Mote, menegaskan bahwa potensi blue carbon di daerahnya, yang berasal dari hutan mangrove ini, bisa Menambah Pendapatan Daerah hingga 1 Triliun per tahun, menjadikannya salah satu sumber daya alam terpenting yang dimiliki Waropen.

Bupati Waropen Drs. Fransiscus Xaverius Mote, M.Si

“26 ribu hektar hutan bakau yang ada di Waropen ini adalah potensi luar biasa yang dimiliki Kabupaten ini. Hutan mangrove ini bisa menghasilkan Pendapatan oksigen 3,17 juta ton per tahun, sebuah kontribusi besar untuk dunia,” kata Bupati Mote dengan bangga, ditemui di Biak, Selasa (14/10).

Foto Aerial Waropen di Distrik Urei Faisei dan Waropen Bawah

Kata Bupati Mote, Hutan mangrove ini tidak hanya berfungsi sebagai penyerap karbon dioksida yang signifikan, tetapi juga menjadi “paru-paru dunia” yang sangat penting dalam menjaga keseimbangan iklim global.

Aktivitas masyarakat di sekitar akiran sungai dan hamparan Hutan Bakau yang sangat terjaga

Potensi blue carbon yang dimiliki Waropen, dengan luas mangrove yang sangat besar, menjadikannya sangat berharga baik dari sisi ekologi maupun ekonomi. “Jika bisa dikelola dengan baik, Waropen tidak hanya akan merasakan manfaat lingkungan, tetapi juga dapat memperoleh pendapatan daerah yang signifikan. Alam sudah menyediakan semuanya, kita hanya perlu menjaga kelestariannya,” tambah Bupati.

 

Bupati menjelaskan bahwa pengelolaan ekosistem mangrove yang tepat dapat menghasilkan keuntungan finansial yang besar tanpa merusak alam. Waropen memiliki potensi untuk menjadi contoh bagi daerah-daerah lain dalam hal pengelolaan sumber daya alam berbasis blue carbon. “Kami sedang mempersiapkan segala sesuatunya untuk memastikan pengelolaan yang berkelanjutan dan aman,” jelasnya.

 

Sementara itu, meskipun banyak pihak yang tertarik untuk mengelola hutan mangrove Waropen, Bupati menegaskan bahwa pemkab masih melakukan kajian mendalam terkait izin dan penataan ruang. “Kami belum memberikan izin karena kami sedang menyusun Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang lebih terstruktur. Kami ingin memastikan setiap langkah diambil dengan hati-hati agar tidak merusak keindahan alam yang sudah Tuhan percayakan kepada kami,” ujar Bupati.

 

Selain manfaat ekologisnya, pengelolaan blue carbon di Waropen juga berpotensi memberikan insentif finansial dari lembaga internasional dan negara. “Jika pihak ketiga mengelola hutan mangrove ini, Waropen akan mendapatkan insentif sebagai pengelola paru-paru dunia,” tambahnya. Hal ini bisa menjadi peluang pendapatan daerah yang sangat besar tanpa mengganggu kelestarian lingkungan.

 

Bupati Mote berharap bahwa dengan pengelolaan yang hati-hati dan tepat sasaran, Waropen bisa menjadi pionir dalam pengelolaan blue carbon yang tidak hanya memberikan manfaat bagi daerah, tetapi juga bagi keseimbangan ekosistem global. Potensi hutan mangrove yang sangat luas ini memberikan harapan besar untuk perubahan positif, baik dari segi lingkungan maupun ekonomi.

Penulis : EL

Artikel Terkait

Warga Adat Waropen Datangi Kantor DPRK, Tolak Keras Izin Sawit 128 Ribu Hektar!

Redaksi

Langkah Besar Menuju Digitalisasi Layanan Kesehatan, Dinkes Waropen Luncurkan Rekam Medis Elektronik (RME), di PKM Khemon Jaya

Redaksi

Pengibaran Merah Putih Bawah Laut di Pulau Nau, Bupati Ajak Dukung Wisata Bahari dan Rohani

Redaksi