WAROPEN, PapuaGlobal.com | Menjelang pelaksanaan Pemungutan Suara Ulang (PSU) Gubernur dan Wakil Gubernur Papua pada 6 Agustus 2025, Bupati Waropen, Drs. F. X. Mote, M.Si, membeberkan tantangan besar yang dihadapi daerahnya, mulai dari kondisi geografis yang berbeda dengan wilayah lain hingga faktor cuaca yang tidak menentu.
Kabupaten Waropen secara Geografis adalah tanah besar di Pulau Papua, dan hanya memiliki satu Pulau Yaitu Pulau Nau, dimana pulau ini masuk dalam wilayah Distrik Oudate. Hanya ada tiga distrik yang sepenuhnya bisa dilalui oleh jalur darat. Distrik Waropen Bawah, Urei Faisei dan wilayah daratan Distrik Oudate.
Sementara bagian Barat Waropen yang terdapat Distrik Inggerus dan Wapoga hanya bisa dilalui lewat jalur laut, untuk distribusi logistik nya. Jalur ini dianggap lebih familiar dan aman. Sebelah timur Waropen ada lima Distrik yakni Risei Sayati, Demba, Wonti, Masirei dan Soyoi Mamba, seluruhnya dilalui menggunakan jalur laut dari wilayah pusat pemerintahan. Wilayah Timur memiliki tantangan tersendiri karena menyusuri batas sungai Mamberamo, dan juga melalui jalur Bakau, dan jalan darat.
Wilayah Bagian Selatan, yang berbatasan dengan Papua Tengah tidak kalah menantang dan Mahal. Ada dua Distrik di wilayah ini, yakni Kirihi dan Walai. Transportasi udara menjadi satu kebutuhan penting untuk distribusi logistik, setelah kebutuhan logistik di drop ke Nabire, Papua Tengah. Dari Nabire, melalui jalur udara menggunakan pesawat ukuran kecil dan juga Helikopter tergantung kebutuhan dan ketersediaan saat itu.
“Secara teknis kita baru bicara, saya senang karena KPU sudah mengungkapkan tingkat kesulitan dan tingkat kemampuan dalam proses pelaksanaan Pungut Hitung ini sampai dengan logistik tiba kembali ke PPD dan ke KPU Waropen. Sudah diperhitungkan oleh seluruh pihak dan juga dukungan dari Polda Papua melalui Polres Waropen,” ujar Bupati Mote usai rapat koordinasi dengan KPU, Bawaslu, dan unsur Forkompimda, Senin (4/8).
Bupati menegaskan bahwa distribusi logistik di Waropen sangat berbeda dengan daerah lain. “Kami ada tiga jenis perjalanan untuk pendistribusian logistik. Waropen itu ada yang jalan darat, hanya di tiga distrik, bahkan di sebagian distrik ketiga ada yang memakai jalur laut. Sisanya semua harus pakai jalur laut. Dan perjalanan ini cukup menantang dan jauh. Dari barat sampai ke Timur Waropen. Biaya memang tidak sedikit. Tidak dipinggir pantai berhentinya, tapi masuk ke Bakau-bakau, rawa, pesisiran sungai, melewati tanah berlumur. Hingga berlabuh menggunakan kapal harus diangkat sampai ke pinggiran,” jelasnya.
Tantangan terbesar terjadi di Distrik Kirihi dan Walai yang hanya bisa dijangkau melalui jalur udara.
“Ada dua distrik juga yang memakai jalur udara memakai pesawat dan satu kali naik untuk perjalanan pulang pergi bisa mencapai 120-an juta. Sekali naik. Satu tempat itu. Itu yang menggunakan pesawat cater dari Nabire. Logistiknya juga menggunakan jalur laut dulu dari Waropen ke Nabire. Ada juga yang naik helikopter. Seperti di Distrik Walai. Dan itu lebih mahal, dan hanya sedikit bisa memuat petugas baik polisi dan bawaslu dan jajaran KPU. Kemudian di Distrik Kirihi pun demikian,” ungkapnya.
Menurut Bupati, kondisi geografis yang menantang tidak boleh disamakan dengan wilayah lain di Papua. Olehnya itu, support dari KPU dan Bawaslu tingkat Provinsi Papua dan tingkat Pusat maupun Polda Papua, harus lebih matang dan tidak boleh disamaratakan, karena setiap wilayah memiliki tantangan masing-masing.
“Saya sarankan kedepan bagi pemerintah pusat dan provinsi untuk melihat Waropen itu jangan disamakan dengan Jayapura, Biak, ataupun di Serui. Kita berbeda. Tingkat kesulitan kondisi geografis kita dengan Mamberamo itu hampir sama,” tegasnya.
Selain kondisi wilayah, cuaca ekstrem juga menjadi tantangan tersendiri. “Memang belakangan sering hujan turun, namun setelah itu badai pasti berlalu. Pasti bisa terselenggara dengan baik dan lancar. Mohon doanya masyarakat Waropen,” ujarnya penuh optimisme.
Bupati pun mengajak seluruh masyarakat untuk mendukung dan menjaga kelancaran PSU.
“Sebagai Bupati saya imbau jangan disamakan dengan daerah lain, semua wilayah memiliki masalah distribusi yang unik, termasuk kami di Waropen,” kata F. X Mote.
Meski dihadapkan pada kondisi alam dan medan yang berat, pemerintah daerah, penyelenggara pemilu, dan aparat keamanan optimis PSU di Waropen dapat berjalan sukses, sehingga rakyat Papua segera memiliki pemimpin baru.
Redaksi : El

